Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Januari 2014

Tahun Baru Imlek

Sebagi seorang yang memiliki garis keturunan Tionghoa dimana kakek adalah warga keturunan, ,masih teringat ketika masih kecil tatkala taun baru imlek kami sekeluarga berkumpul, makan-makan dan tak lupa hal yang paling ditunggu yaitu pembagian Angpao. Tapi karena kami sekeluarga adalah muslim termasuk kakek saya, perayaan Implek kami anggap sebagai budaya turun temurun, dan ketika kakek telah meninggal, perayaan itu pun telah jarang dilaksanakan.

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai di hari pertama bulan pertama (Tionghoa: 正月; pinyin: zhēng yuè) di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh 十五冥 元宵 di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti "malam pergantian tahun".

Sebenarnya penanggalan Tionghoa dipengaruhi oleh 2 system kalender, yaitu sistem Gregorian dan sistem Bulan-Matahari, dimana satu tahun terbagi rata menjadi 12 bulan sehingga tiap bulannya terdiri dari 29 ½ hari. Penanggalan ini masih dilengkapi dengan pembagian 24 musim yang amat erat hubungannya dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada alam, sehingga pembagian musim ini terbukti amat berguna bagi pertanian dalam menentukan saat tanam maupun saat panen. Sebagai contoh Permulaan musim semi, Musim hujan, Musim serangga dan seterusnya

Selain dari pembagian musim di atas, dalam penanggalan Tionghoa juga dikenal istilah Tian Gan dan Di Zhi yang merupakan cara unik dalam membagi tahun-tahun dalam hitungan siklus 60 tahunan. Masih ada lagi hitungan siklus 12 tahunan, yang kita kenal dengan “Shio”, yaitu Tikus, Sapi, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, Babi.

Dirayakan di daerah dengan populasi suku Tionghoa, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873). Di Daratan Tiongkok, Hong Kong, Makau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi suku Han yang signifikan, Tahun Baru Imlek juga dirayakan, dan pada berbagai derajat, telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.

Dalam merayakan Imlek, terdapat beberapa hal unik atau khas diantaranya :

1. Warna merah
Memiliki makna sejahtera, membawa berkah dan hoki/keberuntungan , dan  dipercaya  ditakuti oleh Nian dan dapat mengusir setan dan roh jahat.

2. Petasan
Imlek sangat identik dengan Petasan. Petasan dipercaya memiliki makna sebagai penghalang dalam menakut-nakuti monster yang berusaha untuk mengacaukan perayaan tersebut.
Selain itu, menyalakan petasan ketika Imlek merupakan sebuah tradisi turun temurun yang sudah di lakukan sejak zaman dahulu hingga sekarang.

3. Kue keranjang
image : widyadara.blogspot.com
Terdapat kebiasaan saat tahun baru Imlek untuk terlebih dahulu menyantap kue keranjang sebelum menyantap nasi sebagai suatu pengharapan agar dapat selalu beruntung dalam pekerjaannya sepanjang tahun. Nien Kao atau Nian Gao, kata Nian sendiri berati tahun dan Gao berarti kue dan juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.
Dalam menyambut Imlek, biasanya masyarakat Tionghoa di China menyiapkan berbagai makanan manis baik sebelum maupun sesudah perayaan Imlek.

4. Barongsai
image : antaranews.com
Imlek sangat kental kaitannya dengan Barongsai. Bukan hanya di Indonesia tetapi di China pun banyak tempat-tempat yang menjadikan Barongsai sebagai megnet utama dalam menyambut tahun baru Tionghoa ini. barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ketiga sebelum masehi.
Menurut kepercayaan orang China, singa juga  merupakan lambang kebahagiaan dan kesenangan. Tarian Singa dipercaya merupakan pertunjukan yang dapat membawa keberuntungan sehingga umumnya diadakan pada berbagai acara penting seperti pembukaan restoran, pendirian klenteng, dan tentu saja perayaan tahun baru.
Dengan berbagai ciri khas yang dimilikinya, tidak heran jika Barongsai banyak menarik antusiasme dari masyarakat setempat.

5.Ang Pao
image : Tionghoa.info
Angpao sendiri adalah dialek Hokkian, arti harfiahnya adalah bungkusan/amplop merah. Sebenarnya, tradisi memberikan angpao sendiri bukan hanya monopoli tahun baru Imlek, melainkan di dalam peristiwa apa saja yang melambangkan kegembiraan seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain2, angpao juga akan ditemukan.
Angpao pada tahun baru Imlek mempunyai istilah khusus yaitu "Ya Sui", yang artinya hadiah yang diberikan untuk anak-anak berkaitan dengan pertambahan umur/pergantian tahun. Di zaman dulu, hadiah ini biasanya berupa manisan, bonbon dan makanan. Untuk selanjutnya, karena perkembangan zaman, orang tua merasa lebih mudah memberikan uang dan membiarkan anak-anak memutuskan hadiah apa yang akan mereka beli.Menurut tradisi hanya orang yang sudah menikah saja yang boleh memberikan Angpao

6. Lentera/Lampion
image : kompas.com
Pada hari raya imlek biasa dipajang lampion-lampion di rumah-rumah atau perkarangan atau tempat umum misalnya di taman, kebun, jalan-jalan, lorong-lorong dan lain sebagainya.
Lampion merah dianggap sebagai simbol kebahagiaan, dan dipasang untuk event-event kegembiraan seperti Imlek. Lampion ini digambari dan dihiasi ornamen-ornamen macam-macam, dan huruf-huruf kaligrafi. Lampion ada yang terbuat dari kertas, kain, kulit binatang, dan dari bordiran-bordiran kain sutra dan lain-lain.




Sumber : 
http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru_Imlek
http://www.imlek.com/ 
http://www.jendela-alam.com/imlek-dan-tradisinya.html

Jumat, 18 Oktober 2013

Mengenal Angklung Sebagai Warisan Budaya Indonesia

Alat musik ini adalah autentik hasil buah karya bangsa Indonesia, sedemikian unik sampai-sampai nyaris saja dicuri oleh bangsa lain. Alat musik ini tiada lain adalah Angklung .

Angklung adalah alat musik terbuat dari dua tabung bambu yang ditancapkan pada sebuah bingkai yang juga terbuat dari bambu. Tabung-tabung tersebut diasah sedemikian rupa sehingga menghasilkan nada yang beresonansi jika dipukulkan. Dua tabung tersebut kemudian ditala mengikuti tangga nada oktaf. Untuk memainkannya, bagian bawah dari bingkai ini dipegang oleh satu tangan, sementara tangan yang lain menggoyangkan angklung secara cepat dari sisi kiri ke kanan dan sebaliknya. Hal ini akan menghasilkan suatu nada yang berulang. Dengan demikian, dibutuhkan sebanyak tiga atau lebih pemain angklung dalam satu ensembel, untuk menghasilkan melodi yang lengkap.

Angklung telah populer di seluruh Asia Tenggara, namun sesungguhnya berasal dari Indonesia dan telah dimainkan oleh etnis Sunda di Provinsi Jawa Barat sejak zaman dahulu. Kata “angklung” berasal dari dua kata “angka” dan “lung”. Angka berarti “nada”, dan lung berarti “putus” atau “hilang”. Angklung dengan demikian berarti “nada yang terputus”.

Beberapa waktu yang lalu, angklung telah memukau dunia dengan pergelaran angklung di Washinton DC, Amerika Serikat yang dimainkan oleh warga setempat yang sama sekali belum pernah memegang angklung apalagi memainkannya. Perkembangan angklung yang sangat pesat tiada lain adalah berkat jasa Daeng Soetigna, dari Bandung, yang pada tahun 1938 menciptakan angklung yang berdasarkan tangga nada diatonik, alih-alih menggunakan tangga nada tradisional pélog atau saléndro. Sejak saat itu, angklung digunakan untuk tujuan pendidikan dan hiburan, dan bahkan dapat pula dimainkan bersama dengan alat-alat musik Barat dalam orkestra. Salah satu penampilan angklung dalam orkestra yang sangat terkenal ialah pada Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955. Udjo Ngalagena, seorang murid dari Daeng Soetigna, kemudian membuka “Saung Angklung” (Rumah Angklung) pada tahun 1966 sebagai pusat pengembangan angklung. Puncaknya adalah pada tanggan 18 November 2010 dimana salah satu Lembaga PBB yang membidangi pendidikan dan kebudayaan UNESCO menetapkan angklung sebagai Karya Budaya Tak Benda dan Warisan Budaya Dunia.

Cara memainkan angklung terdiri dari beberapa bagian, yakni sbb :
  1. Menggetarkan Angklung, Angklung dibunyikan dengan digetarkan secara panjang sesuai nilai nada yang dimainkan. 
  2. Membunyikan Putus-putus, Dipukul (Centok), Angklung tidak digetarkan, melainkan dipukul ujung tabung dasar (horisontal)-nya oleh telapak tangan kanan untuk menghasilkan centok (seperti suara pukulan). Hal ini berguna untuk memainkan nada-nada pendek seperti tanda musik pizzicato. 
  3. Tengkep, Angklung dibunyikan dengan digetarkan secara panjang sesuai nilai nada yang dimainkan, tetapi tidak seperti biasanya tabung kecilnya ditutup oleh salah satu jari tangan kiri sehingga tidak berbunyi (yang berbunyi hanya tabung yng besar saja). Hal ini dimaksudkan supaya dapat dihasilkan nada yang lebih halus sesui keperluan musik yang akan dimainkan (misalkan untuk tanda dinamika piano). 
  4. Nyambung, Seperti disampaikan oleh guru angklung diatonis Bapak Daeng Soetigna, maka dianjurkan untuk membunyikan nada angklung secara nyambung. Hal ini dilakukan dengan teknik sebagai berikut: bila ada dua nada yang dimainkan secara berturutan, maka agar terdengar nyambung maka nada yang dibunyikan pertama dibunyikan sedikit lebih panjang dari nilai nadanya, sehingga saat nada kedua mulai dimainkan, nada pertama masih berbunyi sedikit, sehingga alunan nadanya terdengar nyambung dan tidak putus. 
  5. Dinamika (keras dan pelan) Sesuai kebutuhan lagu, angklung dapat dimainkan pelan (piano) atas keras (forte). Disarankan untuk kedua jenis dinamika ini sebaiknya frekuensi getaran angklung per detik tetap sama jumlahnya, sedangkan yang berbeda adalah jarak ayunan angklung oleh tangan kanan yang selanjutnya akan menentukan amplituda getaran dan menyebabkan keras atau pelannya lnada yang dimainkan.



sumber :
http://www.angklungeindhoven.com
http://angklung-web-institute.com

gambar :
indonesia.travel

Jumat, 12 Juli 2013

Objek Wisata Situs Gunung Padang

Situs Gunungpadang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan WarungKondang, dijalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Luas kompleks "bangunan" kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m
gambar : keajaibandunia.net
dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. 
Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, "Buletin Dinas Kepurbakalaan") tahun 1914. Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat "terlupakan", pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini. 
Fungsi situs Gunungpadang diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun S.M. Hasil penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir menunjukkan kemungkinan adanya pelibatan musik dari beberapa batu megalit yang ada Selain Gunungpadang, terdapat beberapa tapak lain di Cianjur yang merupakan peninggalan periode megalitikum.
Ada kabar gembira bagi pencinta wisata, dimana Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyatakan kesiapan menjadikan situs megalitik Gunung Padang ini sebagai destinasi wisata baru, pihaknya sangat mendukung upaya untuk menjadikan lokasi situs sebagai kawasan destinasi wisata yang nantinya mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.
Namun konsep wisata dalam hal ini belum dibahas secara detail dan masih dalam tahap penyusunan sebuah tim untuk persiapan. Situs Gunung Padang yang berupa bangunan berundak menyerupai piramida dinyatakan sebagai situs budaya karena bukan murni terbentuk oleh alam.






sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Gunung_Padang

Jumat, 21 Juni 2013

Wisata Budaya

gambar : indonesia.travel
Keanekaragaman budaya yang ada disuatu tempat dapat dijadikan objek wisata untuk dikunjungi oleh para wisatawan. Wisata budaya ini menyangkut kekhasan dan keunikan budaya , dapat berupa kesenian, upacara maupun hasil karya seni masyarakat setempat. 
  • Wisata budaya adalah bepergian bersama-sama dengan tujuan mengenali hasil kebudayaan setempat (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001 : 1274). 
  • Batasan yang lain wisata budaya adalah: Gerak atau kegiatan wisata yang dirangsang oleh adanya objek-objek wisata yang berwujud hasil-hasil seni budaya setempat: Adat istiadat, upacara agarna, tata hidup masyarakat, peninggalan sejarah, hasil seni, kerajinan-kerajinan rakyat dan sebagainya (R.S. Damardjati, 1989: 19) 

Wisata budaya ini memiliki unsur-unsur yang menjadi daya tarik wisatawan, diantaranya : 
  1. Event pertunjukkan yang dikemas dari budaya atau adat istiadat masyarakat setempat 
  2. Riset dan penelitian ilmiah serta kegiatan lain yang bersifat edukatif kultural 
  3. Unsur-unsur yang bersifat tangible atau kebendaan yang berupa hasil kerajinan yang bercirikan kearifan budaya setempat 
  4. Unsur lain yang dikemas dalam event wisata sejarah dan wisata pendidikan 
Namun wisata budaya ini memiliki efek negatif terhadap kelangsungan budaya itu sendiri, diantaranya : 
  • Terjadinya interaksi masyarakat tradisional dengan masyarakat modern yang memungkinkan adanya pola saling mempengaruhi, yang akan merubah pola kehidupan budaya masyarakat setempat. 
  • Komersialisasi wisata budaya yang berlebihan mengakibatkan adanya upaya untuk merubah kultur budaya apabila dinilai kurang memiliki nilai ekonomis. 
  • Terjadinya transformasi dari aktifitas sosial ke arah produk dan perkenalan dengan bentuk ekonomi yang baru akan sedikit banyak mengubah tata nilai struktur dan kultur masyarakat. 
Berkenaan dengan hal tersebut, muncul rambu-rambu untuk menekan dampak penurunan nilai-nilai budaya seperti yang ditulis kode etik pariwisata dunia, yaitu : 
“Kegiatan pariwisata harus dirancang sedemikian rupa untuk memungkinkan kelangsungan hidup dan berkembangnya hasil-hasil budaya , seni tradisional, dan seni rakyat, dan bukan sebaliknya menimbulkan terjadinya standarisasi dan penurunan hasil-hasil budaya tersebut”