Tampilkan postingan dengan label Artikel Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 September 2014

Mengenal Iket Sunda Sebagai Salah Satu Budaya Khas Sunda

Iket Sunda
Iket, Totopong, atau Udeng adalah tutup kepala yang terbuat dari kain dengan corak khas budaya Sunda. Fungsi utama iket Sunda ini adalah sebagai sebagai pelindung kepala dari panas matahari, angin, dan cuaca, tetapi lebih terkenal sebagai pelengkap atau aksesoris busana Sunda.

Iket dalam budaya sunda memiliki filosofi tersendiri, disebut Makutawangsa :

“sing saha bae anu make iket ieu, maka dirina kudu ngalakonkeun Pancadharma….“
artinya : “barang siapa yang menggunakan iket ini, harus menjalankan Pancadharma…

Hukum Pancadharma:
Apal jeung hormat ka Purwadaksi Diri (Menyadari dan menghormat kepada asal usul diri).
Tunduk kana HUukum jeung Aturan (Tunduk akan hukum dan tata tertib/aturan).
  • Berilmu (Dilarang Bodoh)
  • Mengagungkan Sang Hyang Tunggal (Sang pencipta, Tuhan yang Maha Esa).
  • Berbakti kepada BANGSA dan NEGARA.

Digambarkan tahapan iket Makutawangsa. Pada tahap pertama disebut OPAT KA LIMA PANCER, dapat juga diartikan diri menyatu dengan unsur-unsur utama alam: Angin, Cai (Air), Taneuh (Tanah) dan Seuneu (Api). Kemudian segiempat tadi dilipat menjadi bentuk segitiga yang merupakan refleksi Diri, Bumi dan Negeri. Refleksi ini dikenal dengan sebutan TRITANGTU dalam falsafah sunda. Kemudian lakukan lipatan sebanyak lima kali, disebut sebagai PANCANITI.
  • Niti Harti (Tahap mengerti)
  • Niti Surti (Taham memahami)
  • Niti Bukti (Tahap membuktikan)
  • Niti Bakti (Tahap membaktikan)
  • Niti Jati (Tahap kesejatian, manunggal dengan sang pencipta)

Sebagai salah satu hasil seni budaya Jawa Barat ini, keberadaan iket harus tetap dilestarikan sehingga tetap dikenal oleh anak-anak muda generasi penerus suku Sunda yang sebelumnya sudah turun temurun. Kang  Mochamad Asep Hadian Adipradja di Pulasara Iket, membagi rupa iket menjasi tiga kategori yaitu:


1. Iket Réka-an Baheula

Iket Réka-an Baheula adalah rupa iket yang penggunaanya sudah menjadi tradisi sehari-hari dan sudah ada sejak dulu di kampung-kampung adat Sunda tanpa dipengruhi unsur seni dari luar. Contoh rupa iket ini adalah yang biasa dipakai oleh orangtua dimana mereka sudah mengenakan rupa iket ini sejak remaja (anak-anak) dan sampai sekarang pun masih tetap memakainya.

Adanya beberapa kunjungan wisata dari kota/tempat lain dimana para pengunjung tersebut mengenakan iket budaya lain yang sedikit berbeda, terkadang dapat mempengaruhi sutu rupa iket Sunda bahkan tertarik untuk menirunya yang pada akhirnya terjadi transformasi bentuk. Mochamad Asep mengambil patokan tahun yang dikatakan rékaan baheula adalah sebelum tahun 1999 karena pada tahun tersebut Musium Sri Baduga telah membuat beberapa artikel mengenai penutup kepala. Yang termasuk Iket Réka-an Baheula di antaranya:
  • Iket Barangbang Semplak
  • Iket Julang Ngapak
  • Iket Kuda Ngencar
  • Iket Parekos Nangka
  • Iket Parekos Jengkol
  • Iket Kekeongan (Borongsong Keong : Banten)
  • Iket Maung Heuay
  • Iket Porteng


2. Iket Réka-an Kiwari

Iket Réka-an Kiwari adalah rupa iket hasil karya dari sendiri (pribadi) sesuai dengan ide, inspsirasi, dan kreasi yang disenanginya. Namun demikian prinsipnya tetap menggunakan jenis kain yang sama yaitu kain juru opat (segi empat). Iket Reka-an ini merupakan bentuk dari penemuan, imajinasi, atau surup-an dari hal hal tertentu, bahkan mungkin saja Rupa Iket Reka-an ini adalah hasil dari rupa iket Buhun yang dilahirkan kembali setelah bertahun-tahun tidak diketahui. Hal ini bisa dibuktikan melalui beberapa saksi hidup dari dari generasi penerusnya. Menurut Mochamad Asep Hadian Adipradja-Pulasara Iket, Rupa Iket Rekaan Kiwari ini mulai banyak di temukan pada tahun 2011 hingga sekarang. Yang termasuk Iket Réka-an Kiwari di antaranya:
  • Iket Candra Sumirat
  • Iket Maung Leumpang
  • Iket Hanjuang Nangtung


    3. Iket Praktis

    Iket Praktis ini adalah Rupa Iket tinggal pakai atau sudah jasi sehingga para pengguna tidak lagi perlu mengikat atau membentuk iket dengan teknik-teknik tertentu tetapi dapat langsung dipakai. Rupai iket Praktis ini mulai dikela sejak tahun 2008. Sama seperti rupa iket lain, Rupa Iket Praktis ini juga mempunyai corak dan warna yang bervariasi tetapi masih sama menggunakan kain juru opat (segi empat). Contoh Rupa Iket Praktis di antaranya:
    • Iket Praktis Parekos
    • Iket Praktis Makuta Wangsa
    • Iket Praktis Mancala Putra




    sumber :



    Jumat, 18 Oktober 2013

    Mengenal Angklung Sebagai Warisan Budaya Indonesia

    Alat musik ini adalah autentik hasil buah karya bangsa Indonesia, sedemikian unik sampai-sampai nyaris saja dicuri oleh bangsa lain. Alat musik ini tiada lain adalah Angklung .

    Angklung adalah alat musik terbuat dari dua tabung bambu yang ditancapkan pada sebuah bingkai yang juga terbuat dari bambu. Tabung-tabung tersebut diasah sedemikian rupa sehingga menghasilkan nada yang beresonansi jika dipukulkan. Dua tabung tersebut kemudian ditala mengikuti tangga nada oktaf. Untuk memainkannya, bagian bawah dari bingkai ini dipegang oleh satu tangan, sementara tangan yang lain menggoyangkan angklung secara cepat dari sisi kiri ke kanan dan sebaliknya. Hal ini akan menghasilkan suatu nada yang berulang. Dengan demikian, dibutuhkan sebanyak tiga atau lebih pemain angklung dalam satu ensembel, untuk menghasilkan melodi yang lengkap.

    Angklung telah populer di seluruh Asia Tenggara, namun sesungguhnya berasal dari Indonesia dan telah dimainkan oleh etnis Sunda di Provinsi Jawa Barat sejak zaman dahulu. Kata “angklung” berasal dari dua kata “angka” dan “lung”. Angka berarti “nada”, dan lung berarti “putus” atau “hilang”. Angklung dengan demikian berarti “nada yang terputus”.

    Beberapa waktu yang lalu, angklung telah memukau dunia dengan pergelaran angklung di Washinton DC, Amerika Serikat yang dimainkan oleh warga setempat yang sama sekali belum pernah memegang angklung apalagi memainkannya. Perkembangan angklung yang sangat pesat tiada lain adalah berkat jasa Daeng Soetigna, dari Bandung, yang pada tahun 1938 menciptakan angklung yang berdasarkan tangga nada diatonik, alih-alih menggunakan tangga nada tradisional pélog atau saléndro. Sejak saat itu, angklung digunakan untuk tujuan pendidikan dan hiburan, dan bahkan dapat pula dimainkan bersama dengan alat-alat musik Barat dalam orkestra. Salah satu penampilan angklung dalam orkestra yang sangat terkenal ialah pada Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955. Udjo Ngalagena, seorang murid dari Daeng Soetigna, kemudian membuka “Saung Angklung” (Rumah Angklung) pada tahun 1966 sebagai pusat pengembangan angklung. Puncaknya adalah pada tanggan 18 November 2010 dimana salah satu Lembaga PBB yang membidangi pendidikan dan kebudayaan UNESCO menetapkan angklung sebagai Karya Budaya Tak Benda dan Warisan Budaya Dunia.

    Cara memainkan angklung terdiri dari beberapa bagian, yakni sbb :
    1. Menggetarkan Angklung, Angklung dibunyikan dengan digetarkan secara panjang sesuai nilai nada yang dimainkan. 
    2. Membunyikan Putus-putus, Dipukul (Centok), Angklung tidak digetarkan, melainkan dipukul ujung tabung dasar (horisontal)-nya oleh telapak tangan kanan untuk menghasilkan centok (seperti suara pukulan). Hal ini berguna untuk memainkan nada-nada pendek seperti tanda musik pizzicato. 
    3. Tengkep, Angklung dibunyikan dengan digetarkan secara panjang sesuai nilai nada yang dimainkan, tetapi tidak seperti biasanya tabung kecilnya ditutup oleh salah satu jari tangan kiri sehingga tidak berbunyi (yang berbunyi hanya tabung yng besar saja). Hal ini dimaksudkan supaya dapat dihasilkan nada yang lebih halus sesui keperluan musik yang akan dimainkan (misalkan untuk tanda dinamika piano). 
    4. Nyambung, Seperti disampaikan oleh guru angklung diatonis Bapak Daeng Soetigna, maka dianjurkan untuk membunyikan nada angklung secara nyambung. Hal ini dilakukan dengan teknik sebagai berikut: bila ada dua nada yang dimainkan secara berturutan, maka agar terdengar nyambung maka nada yang dibunyikan pertama dibunyikan sedikit lebih panjang dari nilai nadanya, sehingga saat nada kedua mulai dimainkan, nada pertama masih berbunyi sedikit, sehingga alunan nadanya terdengar nyambung dan tidak putus. 
    5. Dinamika (keras dan pelan) Sesuai kebutuhan lagu, angklung dapat dimainkan pelan (piano) atas keras (forte). Disarankan untuk kedua jenis dinamika ini sebaiknya frekuensi getaran angklung per detik tetap sama jumlahnya, sedangkan yang berbeda adalah jarak ayunan angklung oleh tangan kanan yang selanjutnya akan menentukan amplituda getaran dan menyebabkan keras atau pelannya lnada yang dimainkan.



    sumber :
    http://www.angklungeindhoven.com
    http://angklung-web-institute.com

    gambar :
    indonesia.travel